Langsung ke konten utama

ONLINE IS ONLIFE

    

   Generasi Millenial atau Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1990 ke atas, yang dianggap memiliki banyak sisi buruk oleh generasi sebelumnya. Generasi ini adalah generasi yang saat ini tengah banyak menjadi bahan perbincangan masyarakat. Generasi milenial disebut sebagai kelompok generasi yang sangat bergantung pada teknologi dan gaya hidup bebas. Menjadi generasi Millenial memiliki beban sosial yang berat dimana lingkungan sekitar menganggap generasi tersebut merupakan generasi yang buruk. Identik dengan generasi yang tidak memiliki tata krama, kurang berosialisasi, manja, boros, dan gadget addict.

   Generasi Milenial merupakan generasi yang kesehariannya bergantung pada smartphone/gadget. Tanpa gadget, hidup terasa kurang lengkap karena diharuskan untuk tetap terhubung dengan khalayak kapanpun dan dimanapun. Banyak dari mereka yang mengandalkan smartphone dalam mengerjakan aktivitas mereka sehari-hari seperti, belanja online, bermain online game, belajar, hingga menonton. Semua aktivitas mereka dilakukan secara online, apalagi ditengah pandemic covid-19 seperti sekarang ini, dimana kegiatan belajar mengajar juga dilakukan secara daring/online. Menurut Christsanto, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Lambung Mangkurat “Mereka (Generasi Milenial) adalah orang-orang sedih yang tak punya sumber kesenangan, sehinggah mereka mencari hal yang bisa menutupi kesedihan itu dengan cara menghabiskan waktu mereka dengan bermain gadget”.

   Bagi anak muda jaman sekarang/generasi milenial, online (Aktif dalam media sosial) sudah menjadi kebutuhan bagi mereka selain makanan dan pakaian. “Rasanya ada yang kurang si, kalo dalam satu hari itu gak online, gak buka medsos (Media Sosial) atau nge-game” tutur Reyjhon, siswa SMP N1 Tabukan Tengah. Oleh karena itu banyak anak-anak yang lebih memilih menghabiskan waktunya dirumah dengan gadget/smartphone dibanding bermain diluar rumah. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak menghabiskan waktu mereka diluar rumah dengan bermain bersama teman-teman. “Ya jelas berbeda, dulu pas pulang sekolah setelah makan pasti lansung keluyuran, mandi sungai, main kelereng, petak umpet. Sekarang mah sunyi, anak-anak main gadget semua” kata Oskar(58).

   Melalui hasil survey dari 26 responden, 96,2% beraktivitas di media sosial setiap hari. 57,7% menghabiskan waktu 1 sampai 2 jam dalam sekali online setiap hari. Dan 53,7% merasa tidak nyaman jika tidak online dalam satu hari tersebut. Hal ini menandakan bahwa mereka benar-benar membutuhkan gadget dan online agar hidup mereka berasa tidak ada yang kurang dan normal. “kalo gak chattingan, ya nge-stalk IG (Instagram) dan liatin story WA temen, yaudah gitu aja” ujar Lisa, Mahasiswa AKP Tahuna. Anggapan bahwa generasi milenial kurang bersosial itu merupakan suatu hal yang tidak benar. Faktanya 100% dari 26 responden semuanya memiliki media sosial. 73,1% pengguna facebook, 69,2% pengguna WhatsApp, dan 57,7% menggunakan Instagram sebagai media sosial mereka agar tetap terhubung dan bisa berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan masyarakat luas.

   Melalui hasil survei dari Indonesia baik.id tentang Penggunaan media sosial oleh individu. Pada tahun 2017, pengguna media sosial memiliki angka yang sangat signifikan yaitu 92,82% dan bukan pengguna media sosial 7,18%. Dari 92,82%, pengguna media sosial terbanyak berasal dari kalangan usia 20-29 tahun (Generasi Milenial) yaitu sebanyak 93,5% dari kelompok generasi milenial memiliki akun media sosial. Pengguna media sosial terbanyak juga didominasi oleh kelompok yang memiliki latar belakang pendidikan sangat tinggi. Terlihat dari tiga kelompok terbesar yaitu, Diploma atau S1 (97,55%), SMA (97,5%), dan S2/S3 (96%).

   Bagi generasi milenials, menghabiskan banyak waktu dengan bermain gadget bukanlah hal yang sia-sia, dan mereka tidak ingin disalahkan dengan hal tersebut. “Untuk apa mereka(generasi sebelumnya) menciptakan teknologi yang super canggih ini kalau bukan untuk kita generasi berikutnya. Ini sudah tuntutan jaman, ya kamu gak punya gadget, gak punya media sosial, ya kamu gak tau apa-apa dengan kondisi dunia sekarang ini” tutur Destrong, Analisis Laboratorium RSU Liungkendage. Mereka hanya beradaptasi dengan jaman, menyalahkan generasi milenials hanya sebuah kebodohan. 

   Generasi milenial merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari gadget dan online. Dikarenakan hampir seluruh aktivitas mereka sekarang ini berada dalam gadget tersebut. Apalagi kondisi dunia yang sekarang ini melarang aktivitas diluar rumah, tidak hanya generasi milenial saja tapi semua kalangan harus beradaptasi dengan sitem Online. Bekerja, sekolah atau kuliah dilakukan secara “daring”, belanja online, bermain pun sudah ada online game. Semuanya sudah disediakan oleh internet. Online is Onlife bagi generasi milenial, karena kehidupan sehari-hari mereka bergantung pada gadget/ smartphone. “Maybe, because kita sudah attached to it and we’re used to it. Thats the reason why millenials can’t live without their phone. Kayak gadget or smartphone sudah menjadi part of our daily lives just like taking selfies post it on our story/my day, it’s like sudah kebiasaan group of millenials” kata Vilma, Mahasiswa Universitas Negeri Manado. Teknologi komunikasi dan informasi terus berkembang, jangan diam, tapi kita mengikuti dan beradaptasi. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANEN JIWA : TANAH SANGIHE (foto pohon cengkeh by : kompas.com) Kepulauan sangihe merupakan salah satu tempat yang harus anda kunjungi saat berwisata ke sulawesi utara. Disini, selain anda menikmati keindahan alam, anda juga dapat menikmati kebudayaan suku sangir yang tinggal ditanah sangihe ini.  Nama sangihe sendiri pertamakali di berikan oleh raja pertama yaitu Gumansalangi. Sangihe diambil dari kata "Sangi" dan "He". Sangi diambil dari nama istri Gumansalangi yakni Sangiang Ondowasa, konon katanya Sangiang merupakan putri yang turun lansung dari surga. Sedangkan kata He berarti Emas.  Masyarakat Sangihe masih banyak yang menganut kepercayaan jaman dulu yaitu menyembah batu dan pohon. Meskipun masyrakat Sangihe saat ini mayoritas beragama Kristen Protestan. Namun tradisi berupa ritual-ritual adat tetap dilakukan. Seperti upacara perpisahan Tahun yang dilakukan pada 31 Januari Upacara "Tulude" yang wajib dilakukan setiap tahun, karena merupakan ritual ad...

Review Film : Frozen II

      F ilm garapan sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck Frozen II akhirnya rilis juga setelah 6 tahun.  Kali ini Frozen II membawa kita pada yang menarik dari Elsa ,Anna, Olaf, dan juga Kristoff.  Pada prolog, film ini menampilkan masa kecil Elsa dan Anna bersama orangtuanya, raja dan ratu kerajaan Arendelle. Orangtua mereka menceritakan kisah raja ketika kecil memasuki Hutan Ajaib, namun sayangnya akses kesana telah tertutup oleh kabut pekat. Lalu sang ratu mengajarkan lagu yang indah dari Hutan Ajaib itu. Elsa yang menjadi ratu masa kini mulai terganggu dengan adanya bunyi aneh yang panjang. Walau telinganya ditutup bantal sekalipun, tetap saja dia mampu mendengar bunyi itu. Elsa juga merasa kekuatannya semakin bertambah. Puncaknya pada suatu malam, Elsa tidak sengaja membangkitkan roh Hutan Ajaib dan seketika tidak ada air juga penerangan di Arendelle. Angin kencang juga seperti merontokkan daerah kerajaan. Warga kemudian dievakuasi ke tempat ti...
PANADA : Kue Rambut Anak Punk           Manado adalah kota yang dikenal sebagai kotanya para bidadari Indonesia. Tapi tidak hanya itu, Manado juga mempunyai banyak makanan unik dan aneh, yang sulit ditemui diluar kota Manado, salah satunya kue rambut anak punk atau biasa disebut Panada.         Panada disebut dengan kue rambut anak punk, dikarenakan bentuknya yang unik seperti rambut anak punk. Selain bentuknya yang unik, yang menjadi khas dari kue ini adalah isinya yang akan membuat orang yang memakannya tidak akan lupa kalau Manado juga mempunyai kue yang lezat. Isi dari kue Panada ini adalah ikan cakalang/tongkol, yang merupakan rasa khas dari kota Manado. “ Yang paling aku suka di kue Panada itu rambut kritingnya yang kriuk dan tengahnya yang lembut dan pas dilidah” kata Eyha(18).         Banyak yang mengatakan bahwa kue Panada merupakan pengaruh kuliner Belanda. Anggapan itu salah. Kue Pana...