PANEN JIWA : TANAH SANGIHE
(foto pohon cengkeh by : kompas.com)
Kepulauan sangihe merupakan salah satu tempat yang harus anda kunjungi saat berwisata ke sulawesi utara. Disini, selain anda menikmati keindahan alam, anda juga dapat menikmati kebudayaan suku sangir yang tinggal ditanah sangihe ini.
Nama sangihe sendiri pertamakali di berikan oleh raja pertama yaitu Gumansalangi. Sangihe diambil dari kata "Sangi" dan "He". Sangi diambil dari nama istri Gumansalangi yakni Sangiang Ondowasa, konon katanya Sangiang merupakan putri yang turun lansung dari surga. Sedangkan kata He berarti Emas.
Masyarakat Sangihe masih banyak yang menganut kepercayaan jaman dulu yaitu menyembah batu dan pohon. Meskipun masyrakat Sangihe saat ini mayoritas beragama Kristen Protestan. Namun tradisi berupa ritual-ritual adat tetap dilakukan. Seperti upacara perpisahan Tahun yang dilakukan pada 31 Januari Upacara "Tulude" yang wajib dilakukan setiap tahun, karena merupakan ritual adat suku sangir.
Masyarakat sangihe rata-rata bekerja sebagai petani dan nelayan. Sangihe dikenal dengan salah satu penghasil cengkeh terbanyak di sulawesi utara. Disangihe panen cengkeh terjadi setiap tahun. Namun panen besar terjadi 4 tahun sekali.
Kesuburan cengkeh di tanah sangihe menyimpan 1 misteri. Yaitu panen yang dilakukan setiap tahun, tanah ini juga meminta imbalan berupa nyawa.
Beberapa kampung dengan penghasil cengkeh terbanyak seperti kulur,tamako,bungalawang sering merasakan hal tersebut. Dimana setiap panen bisa mengakibatkan 1 sampai 3 orang meninggal di masa panen.
"Masau kerene, pokoknya apang me panen mag pasti pia sau masue" Sering begitu, pokonya disetiap panen pasti ada yang meninggal ujar julio salah satu petani di bungalawang.
Kasusnya pun bermacam‐macam, ada yang meninggal karena terjatuh, ada juga yang meninggal tanpa ada sebab. "Saya terjatuh, tapi bukan terjatuh karena kelalaian saya, melainkan sementara memetik buah cengkeh saya kaget melihat pohon kelapa yang kokoh berdiri tiba-tiba tumbang menghapiri saya. Padahal sedang tidak ada angin maupun hujan. Untung saya masih bisa menghindar dan bisa selamat meski kaki kiri saya patah" ujar Romeo.
Hal tersebut masih menjadi misteri ditanah sangihe. Percaya tidak percaya tapi hal tersebut memang terjadi. Meskipun begitu, kehidupan di tanah sangihe terus terjalin dengan aman dan tentram.

Komentar
Posting Komentar